Rabu, 27 Februari 2013

JARAK YANG MENGHANCURKANNYA

Bianca Dominique adalah murid SMA N 9 Jakarta, dia berumur 17 tahun tepatnya dia duduk di kelas 12. Dia tinggal bersama Ayahnya, ibunya sudah lama meninggalkan Bianca sejak dia duduk dikelas 5 sekolah dasar. 

Pagi ini Bianca memulai aktivitasnya seperti biasa, bangun pukul 5 pagi dilanjutkan dengan sholat subuh juga mandi bersiap-siap untuk bersekolah.

 “Ayah, Bian berangkat sekolah dulu ya” ujarnya sambil mengambil roti isi selai coklat kesukaannya di meja makan.

“Iya nak, hati-hati di jalan ya” jawab ayah sambil mendekati putri semata wayangnya itu.

“Assalamualaikum, Bianca selalu sayang ayah” balasnya sembari mencium tangan ayahnya juga mencium pipi ayahnya.

“Wa’alaikumsalam, Ayah juga selalu sayang Bianca” ucap ayahnya.

Jarak rumah Bianca dari sekolahnya itu sekitar 1 km, dia berjalan kaki untuk sampai disekolah. Setibanya Bianca digerbang sekolah, dia dikejutkan dengan seseorang lelaki yang mengendarai motor dan secara tidak sengaja lelaki itu melewati kubangan yang penuh dengan air sisa hujan semalam. Dan akhirnya seragam sekolah Bianca terkena air dari kubangan tersebut. Entah mimpi apa 
Bianca semalam, seragam putihnya itu berubah berwarna kecokelatan.

Bianca teringat sejenak dengan guru pelajaran jam pertama untuk hari ini, yaitu guru pelajaran bahasa asing, tubuhnya semampai, modis dan dia paling tidak suka dengan seragam murid-muridnya yang kucel dan kotor. “oh Tuhan, Ms.Shinta pasti marah kalo tau bajuku sekotor ini, harus gimana ini” Bianca menghardik dirinya sendiri. Sedangkan lelaki itu tidak memperdulikan apa yang terjadi pada Bianca, lelaki itu tanpa meminta maaf langsung meneruskan laju motornya menuju area parkir sepeda motor.

Bianca yang geram terhadap lelaki itu langsung mengejar dan memarahinya.

“Kamu itu sudah salah engga minta maaf pula!”, katanya dengan nada super tinggi, membuat murid lain disekitar area parkir memerhatikan mereka.

“Apaan sih kamu ini? Aku tidak sengaja, lagian suruh siapa kamu jalan disamping kubangan itu?”, jawab lelaki itu enteng.

“Hah? Jangan balik nyalahin orang dong! Ini seragam udah engga keliatan kaya seragam. Jam pertama dikelas itu pelajarannya Ms.Shinta, bisa habis aku dimarahinya!”, nada bicara Bianca semakin meninggi.

“Terus masalahnya buat aku apa?”, jawaban lelaki itu lebih enteng dari sebelumnya.

“Ah memang kamu cowok yang engga punya perasaan!”, Bianca menjawabnya setengah terisak.

Lelaki itu pergi meninggalkan Bianca yang sedang terisak diarea parkir sendirian.

Lalu Bianca memutuskan untuk pergi ke toilet dan membersihkan baju seragamnya itu. Sepuluh menit Bianca berada ditoilet, dia sudah berusaha membersihkan baju seragamnya tapi baju seragam itu tidak bisa seputih semula. Bianca putus asa, dia keluar dan menuju ruang kelas, dia berharap Ms.Shinta tidak masuk kelas ataupun tidak terlalu memerhatikan seragamnya pagi ini.

“Baju seragam mu kenapa Bian?” tanya Lisa teman sebangku Bianca.

“Itu tadi ada lelaki tidak bertanggung jawab yang telah mengotori baju seragamku” jawabnya malas.

“Wah harus diberi pelajaran tuh orang!” balas Lisa.

“Sudahlah, balasan apapun engga akan bisa buat dia sadar kesalahan dia itu apa, biar tuhan saja yang membalasnya” ujar Bianca pasrah.

Bel tanda masuk berbunyi, semua murid yang sedang sibuk dengan aktivitas dikelas serempak duduk rapi dibangku masing-masing. Tidak lama kemudian Ms.Shinta datang, seperti biasa dengan pakaian yang modis dan tidak lupa highheels yang super tinggi.

“Good morning” sapa Ms.Shinta untuk kali ini.

“Good morning too Ms.Shinta” jawab murid dengan serentak.

Mata Ms.Shinta itu seperti kelelawar, tajam dan tahu tepat dimana mangsanya berada. Matanya langsung tertuju kepada Bianca yang duduk di bangku ketiga dan di baris kedua dari pintu. Bianca tidak berani menatap Ms.Shinta, Bianca tertunduk penuh harap. Dia tahu apapun alasannya pasti Bianca lah dimarahai oleh Ms.Shinta, dia pasrah.

“Bianca, kenapa seragam mu itu? Iyuuh kotor sekali, abis mandi di empang ya 
 kamu?” Ms.Shinta mulai berbicara.

Semua murid kecuali Lisa dan Bianca serentak tertawa.

“Ituu Ms.... tadi ada lelaki tidak bertanggung jawab yang telah mengotori baju seragamku” jawab Bia ragu.

“Kenapa kamu tidak meminta pertanggung jawabannya?” tanya Ms.Shinta.

“Sudah Ms, tapi dia malah engga peduli terus pergi” jawab Bianca.

“Yasudah kalau begitu, silahkan kamu berdiri dilapangan dan hormat menghadap bendera merah putih sampai pelajaran saya selesai” lanjut Ms.Shinta.

“Tapi Ms, saya engga salah” bela Bianca

“Sudah sana, tidak ada argumen!” bentak Ms.Shinta.

Bianca berjalan menuju lapangan dengan perasaan malas dan kesal.
Tiga jam pelajaran terasa sangat lama untuk hari ini, Bianca berkali-kali mengusap keringat yang ada dimukanya. Tapi beruntungnya Bianca, ini pelajaran pertama sampai pelajaran ke tiga, coba saja kalau ini pelajaran ke empat dan seterusnya, pasti dia sudah gosong terpanggang sengatan terik matahari. Dia melihat lelaki tidak bertanggung jawab dari kejauhan, lelaki itu sedang asik mengobrol dengan temannya. Semakin lama, lelaki itu semakin mendekat, berjalan menuju arah Bianca. Dan akhirnya Bianca tau tujuan lelaki itu adalah untuk mengejek nya karena Bianca dihukum oleh Ms.Shinta.

“Aku tahu dari pelajaran pertama kamu pasti disini sedang apel pagi sendirian.” Ucapnya sambil tertawa, ke dua temannya pun ikut tertawa.

“Sialan kamu! Sudah salah engga mau minta maaf dan sekarang malah ngejek! Punya hati engga sih kamu?  Dasar cowok tolol!” hardik Bianca

“HAHAHA, kenalin nama ku Evan Ferdiansyah, panggil saja Evan. Aku kelas 12” jawabnya seakan-akan tidak ada masalah.

“Engga tau diri kamu!” Bianca tambah marah.

“Sudahlah lupakan masalah ini, nama mu Bianca kan? Bianca Dominique. Nama yang lembut tapi sayang engga selembut orangnya” tawa evan semakin kencang.

Bianca tidak mengiraukan perkataan Evan tadi.

“Ini minum buat kamu” ucap evan sambil menyulurkan sebotol soft drink.

“Cuma ini cara minta maaf mu? Kuno sekali!”, jawab Bianca

“Hah? Siapa yang mau minta maaf? Aku cuma kasian sama kamu, takut nanti kamu dehidrasi terus pinsan dan engga ada yang bersedia nolongin kamu”, balas Evan, menang.

Bianca menarik nafasnya dalam-dalam, berharap emosinya dapat terkontrol.

“Sudah sanah pergi! Capek ngeladenin orang gila kaya kamu!”

“Yasudah ini aku taroh minumannya dibawah ya, dadah Bian.”, jawab Evan lalu pergi meninggalkan Bianca.

Kriiiiing......... akhirnya bel untuk jam ke-tiga pun berbunyi. Hati Bianca sedikit lega, dia bisa pergi jauh dari lapangan itu. Hari itu Bianca jalani dengan raut wajah malas.

Waktu sudah menunjukan pukul 15.00, ini berarti saat-saat yang ditunggu Bianca, pulang. Bianca kembali menyusuri jalan yang tadi pagi dia lewati, dengan langkah kaki sedikit gontai. Bianca sampai kerumah dengan selamat, tanpa ada gangguan dari lelaki yang tidak mempunyai perasaan itu, siapa lagi kalau bukan Evan.

Sore harinya Bianca duduk menikmati indahnya sore di balkon rumahnya. Fikiran Bianca melayang dan jatuh pada kejadian yang menyebalkan tadi pagi, namun yang membuat heran adalah fikiran Bianca yang lebih dominan kepada Evan bukan pada kejadian itu.

Bianca membuka catatan tugas untuk besok dan dia mendapati tugas pelajaran Sejarah belum Ia selesaikan. Bianca berusaha mengerjakan tugas itu tapi fikiran Bianca terbagi dua, yaitu terbagi untuk memikirkan Evan. Bianca memutuskan untuk menunda tugasnya itu karena percuma dia mengerjakannya namun fikirannya tertuju kepada Evan.

“Ah kenapa aku jadi mikirin lelaki engga tau diri itu? Mending aku tidur.”, ucap Bianca dalam hati.

Sudah berulang kali Bianca mencoba memejamkan matanya, namun dia tidak juga berhasil membuat matanya terpejam. Di fikirannya cuma ada Evan, ya Evan. Bianca berusaha membuang jauh-jauh fikiran itu, tetapi semakin dia berusaha membuangnya maka semakin kuat fikiran tentang lelaki itu. Terbesit difikiran Bianca bahwa apakah ini semua cinta.

“Mana mungkin aku bisa jatuh cinta sama lelaki itu! Ah engga mungkin! Ah sudahlah buat apa difikirin? Bikin capek.”, lanjutnya dalam hati.

Akhirnya setelah Bianca berperang dengan fikirannya sendiri, dia dapat tertidur.

Bianca bangun dari tidurnya, meminum sedikit air putih dan bergegas untuk berangkat kesekolah. Bianca pamit kepada Ayahnya seperti biasanya, tanpa lupa mengucapkan salam dan mencium tangan serta pipi Ayah tersayangnya.
Selama 2 minggu terakhir ini, fikiran Bianca tidak bisa terlepas dari lelaki bernama Evan.

Tidak terasa 5 bulan lagi Ujian Nasional. Akhir-akhir ini Bianca dan semua murid kelas 12 lainnya disibukan dengan kegiatan baru, yaitu jam pelajaran tambahan untuk persiapan Ujian Nasional nanti.

“Hay Bian, mau aku antar pulang? Hari sudah gelap dan kayanya sebentar lagi mau hujan, engga baik juga anak perempuan jam segini pulang sendirian.”, sapa Evan hangat.

“Engga usah sok baik bisa kan?”, jawab Bianca.

“Ah sudahlah engga usah banyak omong, cepat naik!”, balas Evan sambil menarik tangan Bianca agar segera menaiki motornya.

Bianca terpaksa mengikuti ajakan Evan karena dia takut pulang sendirian, awan gelap bertanda hujan kapan saja bisa turun.
Belum lama mereka menjauh dari sekolah, hujan pun turun. Bianca dan Evan terpaksa meneduh. Kurang lebih satu jam mereka menunggu hujan itu reda. Bianca kedingan, tanpa diminta, Evan langsung mengambil jaketnya yang dia simpan di dalam tasnya lalu dia memakai kan jaket itu pada Bianca. Bianca menelan ludah saat dia tahu Evan tidak sejahat yang dia fikir. Evan ternyata mempunyai kepekaan super tinggi. Entah kenapa Bianca merasa nyaman dan senang diperlakukan seperti ini oleh Evan.

Semakin hari mereka semakin dekat, memang benar benci itu bisa jadi cinta.
Hari ini adalah hari penentuan untuk Bianca, Evan dan seluruh murid kelas 12. Empat hari mereka akan menjalani Ujian Nasional. Hari pertama dapat dilewati Bianca dengan tenang, begitupun hari kedua, hari ketiga dan hari yang ke empat.

Kabar buruk untuk Bianca, selepas pengumuman kelulusan nanti Evan akan pergi melanjutkan study nya di Amerika, Evan berhasil mendapatkan beasiswa untuk belajar di Amerika dengan bidang study Kedokteran. Rasa sedih dirasakan oleh Bianca. Bianca tidak ingin berpisah dengan Evan, baru mendengar rencana keberangkatnya saja Ia sudak tidak memiliki nafsu makan, apalagi kalau Evan sudah benar-benar pergi.

“Evan, kamu benar-benar ingin pergi kesana ya?”, tanya Bianca

“Iya, ini sudah menjadi cita-citaku sejak dulu. Sayang kalau tidak diambil. Kamu kenapa? Engga usah sedih nanti kalau aku pulang, aku sepenuhnya milik kamu Bian.”, jawab Evan menenangkan Bianca

Bianca sudah sedikit tenang namun Ia masih saja berfikir yang tidak-tidak, itu karena Ia tau waktu yang dibutuhkan untuk menunggu Evan itu lama, sangat lama. Namun apa yang harus terjadi ya harus terjadi. Bianca berusaha menerimanya.

Saat ini tiba saatnya kelulusan dan tidak lama lagi Bianca akan berpisah dengan Evan. Bianca dan Evan mendapatkan peringkat tiga besar nilai tertinggi Ujian Nasional di sekolahnya.

“Bianca, sekarang sudah waktunya untuk menjalani hubungan ini dengan jarak. Maafkan aku tapi ini juga untuk masa depan kita. Aku berjanji saat aku pulang nanti, kamu orang pertama yang aku temui dan gelar dokter itu untuk kamu.”, Evan memulai pembicaraan.

“Jujur ini sulit untuk ku tapi itu yang terbaik. Diri kamu sendiri jauh lebih penting dari segalanya. Sukses ya disana. Aku selalu sayang kamu.”, jawab Bianca sambil memeluk erat tubuh Evan.

Bianca mengantarkan Evan ke Airport, wajah sedihnya tidak bisa Ia sembunyikan. Lagi-lagi Bianca berusaha menyeka air matanya. Evan berulang kali menyakinkan Bianca. Waktu keberangkatan pesawat yang ditumpangi oleh Evan tinggal lima menit lagi, Evan berpamitan kembali kepada Bianca.

“Jaga dirimu baik-baik ya disini, jangan lupa makan dan sholat. Doain aku disana baik-baik saja. Aku sayang kamu.”, Ujar Evan

“Iya, kamu juga jaga diri baik-baik disana. Jangan lupa kalau sudah sampai sana kabari aku. Aku lebih sayang kamu.”, jawab Bianca sedih.

Evan pun melangkah menjauhi Bianca, rasanya baru kemaren mereka bertemu dan sekarang mereka harus berpisah, kenyataan hidup yang berat. Sekejap Evan hilang dari pandangan Bianca. Bianca tertunduk  menangis namun Ia berusaha menyakin kan lagi dirinya.

Bianca pun kembali pulang ke rumahnya walaupun ini semua susah.
Akhirnya kabar dari Evan datang, Evan mengirimkan pesan singkat yang berisi kabar bahwa dia sudah sampai Amerika dengan selamat. Bianca mengucapkan syukur berulang kali saat mendengar kabar itu.

Bianca melanjutkan studynya di Universitas Indonesia, Ia mengambil jurusan Arsitektur. Bianca selama satu tahun ini berusaha untuk mengejar beasiswa ke Amerika, agar Ia dapat menyusul Evan dan berjuang bersama disana.

Dan akhirnya Bianca pun mendapatkan beasiswa itu. Dua bulan lagi Bianca harus bersiap berangkat ke Amerika dan tak lupa Bianca mengabarkan berita baik ini kepada Evan dan Ayahnya. Evan merespon dengan sangat bahagia, namun lain hal dengan Ayahnya.

Ayah Biancana enam bulan belakangan ini diagnosa oleh dokter mengalami penyumbatan pembuluh darah di otak yang cukup parah. Dia ingin sekali ditemani oleh anak semata wayangnya itu, namun Bianca teguh pada pendiriannya. Ayahnya tidak dapat berbuat banyak untuk menanahan putrinya agar tetap tinggal di Indonesia.

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu oleh Bianca datang. Ayahnya ikut mengantarkan Bianca sampai ke Airport, Ayahnya masih berusaha menahan putrinya namun Ia tetap ingin pergi ke Amerika menyusul Evan.

“Tenang Ayah sayang, Bianca akan cepat pulang. Ini semua untuk kebahagian kita.”, jelas Bianca.

“Iya nak, apa pun yang terbaik untuk kamu Ayah berusaha menerimanya. Jaga diri baik-baik ya disana. Sholat jangan kamu tinggalkan. Ayah menunggumu disini.”

“Iyah Ayah, Bianca sayang Ayah.”

“Ayah juga sayang Bianca.”

Mereka berdua saling memeluk, seperti tak rela melepaskan satu sama lain.
Bianca sudah duduk manis di pesawat, Ia sudah tak sabar bertemu dengan Evan. Evan berjanji akan menjemput Bianca dan mengantarkannya ke tujuan.
Sampailah Bianca di  Amerika, sambutan hangat dari Evan langsung Ia terima.
Enam bulan berlalu, Bianca have fun menjalaninya. Ia kembali bersama Evan. Namun di saat kebahagian nya itu ada musibah besar yang sangat membuat terpuruk Bianca. Ayahnya meninggal karena pembuluh darah di otaknya itu pecah. Bianca segera menemui Evan di apartemennya namun tidak di duga, Evan sedang berdua dengan bule di kamar apartemennya itu. Hancur sudah hati Bianca, tinggal sisa kepingannya saja namun itu tidak akan pernah tersusun dengan sempurna lagi. Akhirnya Bianca kembali ke Indonesia dan langsung menemui Ayahnya di pusara. Bianca menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal meninggalkan Ayahnya sendiri di Indonesia demi lelaki berengsek itu. Namun nasi telah menjadi bubur, penyesalan memang selalu datang di akhir.

0 komentar:

Posting Komentar

By :
Free Blog Templates