Selasa, 26 Maret 2013
|
http://dwitasarii.blogspot.com/2013/03/jangan-bilang-rindu.html
|
Aku menulis
ini bersama rasa sakit yang tidak benar-benar kamu pahami. Aku menatap laptopku
dengan wajah masam, berujung pada perasaan yang tidak berhasil kautebak.
Mengertikah kamu, perjuanganku juga butuh kepedulianmu?
Entah karena
kauterlalu bodoh untuk menilai atau terlalu egois untuk memaklumi. Aku mencoba
sabar, mencoba sabar menghadapimu. Aku berusaha bertahan, berusaha
mempertahankan yang harusnya aku lepaskan. Aku sudah menunggu sangat lama,
mengharap pengertianmu menderas ke arahku. Tapi, hal itu tak kunjung kutemui.
Kamu masih begitu, dengan omonganmu, dengan tingkahmu yang tak berubah.
Apakah
kesabaran dan perjuangan yang kulakukan benar-benar tak terlihat di matamu?
Kaumengetahui segalanya kan? Mengapa hanya diam dan bisumu yang selalu kudapati
di hari-hari kebersamaan kita?
Aku
ketakutan dan kedinginan sendirian. Kamu tak pernah ada di sini saat aku
butuhkan. Aku juga tak paham lagi, pantaskah kebersamaan kita terus aku
perjuangkan? Pantaskah sosokmu selalu kupertahankan? Jika yang kudapatkan hanya
pengabaian, ketidakpedulian dan kebohongan; bagian manakah yang bisa memberi
kebahagiaan?
Kamu jauh di
sana, tak banyak yang kaulakukan selain mengirim pesan singkat atau menyapaku
dari ujung telepon. Tak banyak yang bisa kita lakukan selain saling merindukan.
Rasa perih itu semakin membesar, membentuk luka yang mungkin sulit sembuh.
Semakin sering aku tak melihatmu, ketakutanku di sini semakin menebal.
Perlukah aku
membandingkan kamu dengan pria-pria lain yang lebih pandai meluangkan waktunya
untukku, daripada sedikit waktu yang kauluangkan untukku? Kamu tak pernah
peduli pada sakitku, perihku, dan sedihku. Kaubiarkan aku menyelesaikan
segalanya sendirian. Inikah wujud kepedulian yang selalu kauributkan denganku?
Mana kepedulianmu? Mana kehadiranmu? Kosong!
“Jangan
bilang rindu, jika kautak bisa ke sini untuk buktikan perasaanmu.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar