Jumat, 29 Maret 2013
http://dwitasarii.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
29 Maret 2013
Aku
masih merasakan sesak yang sama. Aku tahu bahwa pada akhirnya aku akan sesedih
ini, aku berusaha menghindari air mata sekuat yang aku bisa. Tapi, kautahu, aku
adalah wanita paling tidak kuat menahan kesedihan. Kamu mendengar ceritaku
tentang pria itu kan? Aku selalu bercerita padamu tentang dia. Seberapa
dalamnya perasaanku, seberapa kuat cinta makin menerkamku, dan seberapa hebat
senyumnya bisa begitu meneguhkan langkahku.
Kamu tentu
tahu seberapa dalam perasaanku padanya dan betapa aku takut perbedaan aku dan
dia menjadi jurang. Aku tak pernah memikirkan perpisahan selama ini, tapi
ternyata hal yang begitu tak ingin kupikirkan pada akhirnya terpaksa masuk
otakku. Aku dan dia tak lagi seperti dulu. Sapaannya tak lagi sehangat dulu,
senyumnya tak lagi semanis dulu, dan tawanya tak lagi serenyah dulu. Aku tak
tahu perubahan macam apa yang membuat sosok pria itu begitu berbeda.
Dari semua
sikapku, tak mungkin kautak tahu aku punya perasaan lebih padanya. Dari semua
ceritaku, tak mungkin kautak paham bahwa aku mulai jatuh cinta padanya. Aku
terlalu banyak diam dan memendam, mungkin di situlah kesalahanku. Terlalu egois
mengatakan dan terlalu takut mengungkapkan. Aku tak bisa menyalahkan
siapa-siapa dan tak bisa mengkambinghitamkan siapa pun. Bukankah dalam cinta
tak pernah ada yang salah?
Mengetahui
kenyataan yang mencekam seperti itu, aku jadi malas tersenyum dan berbicara
banyak tentang perasaanku pada orang lain. Aku malah semakin belajar untuk
menutup rapat-rapat mulutku pada setiap perasaan yang minta diledakkan lewat
curhat-curhat kecil.
Berbahagialah
kamu bersama pria itu, pria yang selalu kubawa dalam cerita-ceritaku. Pria yang
bagiku terlalu tinggi untuk kugapai dan terlalu misterius untuk kumengerti
jalan pikirannya. Setiap melihatmu dengan pria itu, aku berusaha meyakinkan
diriku; bahwa aku juga harus ikut berbahagia melihatmu dengannya. Sejatinya,
cinta adalah ikhlas melihat orang yang kucintai bahagia meskipun ia tak pernah
menjadikanku pilhan satu-satunya.
Tenanglah,
aku sudah mulai melupakannya. Sudah ada seorang pria baru, yang tak begitu
kucintai, tapi kehadirannya bisa sedikit mengundang senyum di bibirku. Aku tak
tahu, apakah perasaanku pada pria baru itu adalah cinta. Aku tak berusaha
memahami, apakah hubungan yang kami jalani selama ini adalah ketertarikan
sesaat atau hanya sarana untuk menyembuhkan luka hatiku? Kami tertawa bersama,
menghabiskan waktu berdua, tapi segalanya terasa biasa saja. Tak ada ledakkan
yang begitu menyenangkan ketika aku bertatap mata dengannya.
Pria yang selalu kuceritakan padamu, yang kini telah menjadi kekasihmu, selalu berbentuk gumpalan bayang-bayang di otakku. Semakin aku berusaha melawan, semakin aku tak bisa menerima bahwa segalanya tak lagi sama. Aku tak ingin ingatanku dan perasaanku yang dulu begitu besar pada masa lalu menjadi penyiksa untuk pria baru yang ingin membahagiakanku kelak. Aku hanya berusaha mengerti yang terjadi dan berusaha pasrah dengan kenyataan yang memang harus kuketahui. Aku tak ingin dibohongi oleh kesemuan yang membahagiakan, lebih baik kenyataan yang memuakan tapi penuh kejelasan.
Pria yang selalu kuceritakan padamu, yang kini telah menjadi kekasihmu, selalu berbentuk gumpalan bayang-bayang di otakku. Semakin aku berusaha melawan, semakin aku tak bisa menerima bahwa segalanya tak lagi sama. Aku tak ingin ingatanku dan perasaanku yang dulu begitu besar pada masa lalu menjadi penyiksa untuk pria baru yang ingin membahagiakanku kelak. Aku hanya berusaha mengerti yang terjadi dan berusaha pasrah dengan kenyataan yang memang harus kuketahui. Aku tak ingin dibohongi oleh kesemuan yang membahagiakan, lebih baik kenyataan yang memuakan tapi penuh kejelasan.
Aku mohon,
jagalah pria itu dengan susah payah, dengan sekuat tenagamu. Aku ingin
kebahagiaannya terjamin olehmu. Aku ingin dia bahagia bersamamu. Di sini, aku tak
bisa berbuat banyak, selain membantu dalam doa.
Aku tak
sempat membuat dia tersenyum. Tolong, inilah permintaanku yang terakhir,
setelah ini aku tak akan mengganggumu; bahagiakan dia, buatlah dia terus
tersanyum, dan biarkan saja dia tak tahu ada seseorang yang terluka diam-diam
di sini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar