Jumat, 29 Maret 2013
Seminggu Setelah Kepergianmu
http://dwitasarii.blogspot.com/2012/05/seminggu-setelah-kepergianmu.html
ini tulisan dwitasari yang bikin saya nangis sejadi-jadinya buat malam ini! thanks
|
|
Tak ada lagi
kamu yang memenuhi kotak inbox di handphone-ku. Tak ada lagi sapamu sebelum
tidur yang membuncah riuh di telingaku. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang
menguatkan setiap langkahku. Tak ada lagi pelukanmu yang meredam segala
kecemasan. Tanpamu... semua berbeda dan tak lagi sama.
Aku membuka
mata dan berharap hari-hariku berjalan seperti biasanya, walau tanpamu, walau
tak ada kamu yang memenuhi hari-hariku. Seringkali aku terbiasa melirik ke
layar handphone, namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu dengan beberapa emote
kiss yang memasok energiku. Pagi yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang.
Lalu, aku
menjalani semua aktivitasku, seperti biasa, kamu tentu tahu itu. Dulu, kamu
memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitasku. Namun, sekarang tak ada lagi
kamu yang berperan aktif dalam siang dan malamku. Tak ada lagi pesan singkat
yang mengingatkan untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. Bukan
masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yang harusnya aku
lakukan. Tapi... kamu tentu tahu, tak mudah mengikhlaskan perpisahan.
Rasa ini
begitu absurd dan sulit untuk dideskripsikan. Kamu membawa jiwaku melayang ke
negeri antah-berantah, dan mengasingkan aku ke dunia yang bahkan tak kuketahui.
Aku bercermin, memerhatikan setiap lekuk wajahku dan tubuhku. Aku tak mengenal
sosok di dalam cermin itu. Tak ada aku dalam cermin yang kuperhatikan sejak
tadi. Aku berbeda dan tidak lagi mengenal siapa diriku. Seseorang yang kukenal
di dalam tubuhku kini menghilang secara magis setelah kepergian kamu. Kamu
merampas habis cinta yang kupunya, melarikannya ke suatu tempat yang sulit
kujangkau. Entah di mana aku bisa menemukan diriku yang telah hilang itu. Entah
bagaimana caranya mengembalikan sosok yang kukenal itu ke dalam tubuhku. Aku kebingungan
dan kehilangan arah.
Ingin
rasanya aku melempari segala macam benda agar bisa memecahkan cermin itu. Agar
aku tak bisa lagi melihat diriku yang tak lagi kukenal. Agar aku tak perlu
menyadari perubahan yang begitu besar terjadi setelah kehilangan kamu. Aku bisa
berhenti memercayai cinta jika terlalu sering tenggelam dalam rasa frustasi
seperti ini. Aku mungkin akan berhenti memercayai lawan jenis dan segala
janji-janji tololnya. Siksaanmu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk
merasakan semua rasa sakit yang telah kausebabkan.
Bagaimana
mungkin aku bisa menemukan seseorang yang lebih sempurna jika aku pernah
memiliki yang paling sempurna?
Aku benci
pada perpisahan. Entah mengapa dalam peristiwa itu harus ada yang terluka,
sementara yang lainnya bisa saja bahagia ataupun tertawa. Kamu tertawa dan aku
terluka. Kita seperti saling menyakiti, tanpa tahu apa yang patut dibenci. Kita
seperti saling memendam dendam, tanpa tahu apa yang harus dipermasalahkan.
Aku menangis
sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya, atas dasar cinta. Kamu tertawa
sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar... entah harus kusebut apa.
Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau rumit itu. Aku merasa
sangat kehilangan, sementara kamu dalam hitungan jam telah menemukan yang baru.
Bagaimana mungkin aku harus menyebut semua adalah wujud kesetiaan? Begitu
sulitnya aku melupakanmu, dan begitu mudahnya kamu melupakanku. Inikah caramu
menyakiti seseorang yang tak pantas kaulukai?
Jam berganti
hari, dan semua berputar... tetap berotasi. Aku jalani hidupku, tentu saja
tanpa kamu. Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengan dia. Aku tak menyangka,
begitu mudahnya kamu menemukan pengganti. Begitu gampangnya kamu melupakan
semua yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu isi otakmu saja, apa kamu tak
pernah memikirkan mendung yang semakin menghitam di hatiku? Atau... mungkin
saja tak punya hati?
Tak banyak
hal yang bisa kulakukan, selain mengikhlaskan. Tak ada hal yang mampu
kuperjuangkan, selain membiarkanmu pergi dan tak berharap kamu menorehkan luka
lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan
menganggapnya tak ada. Kepergianmu yang tak beralasan, kehilangan yang begitu
menyakitkan, telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.
Aku mulai
suka air mata yang seringkali jatuh untukmu. Aku mulai menikmati saat-saat
napasku sesak ketika mengingatmu. Aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yang
kauciptakan selama ini.
Terima
kasih.
Dengan luka
seperti ini. Dengan rasa sakit sedalam ini. Aku jadi tambah sering menulis.
Lebih banyak dari biasanya.
Aku semakin
percaya, bahwa Kahlil Gibran butuh rasa sakit agar ia bisa menulis banyak hal.
Sama seperti
aku, butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis... terutama yang bercerita
tentangmu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar